Senin, 24 Oktober 2016

DIMENSI EPISTIMOLOGI

1
BAB I
PENDAHULUAN
1. Latar Belakang Masalah
Hasrat ingin tahu, merupakan sifat dasar alamiah manusia yang menjadi pintu masuk lahirnya ilmu pengetahuan. Kelahiran ilmu pengetahuan, kata Fuad Hassan1), akan selalu diawali oleh rasa keingintahuan manusia akan segala sesuatu. Apa yang diketahui manusia disebut pengetahuan
Manusia mengembangkan pengetahuannya dalam rangka mengatasi kebutuhan- kebutuhannya. Ia memikirkan hal-hal baru, menjelajah ufuk baru dan selanjutnya melakukan penemuan-penemuan baru. Pengetahuan manusia dapat bekembang dikarenakan dua hal utama. Pertama, manusia mempunyai bahasa yang mampu mengomunikasikan informasi dan jalan pikiran yang melatar belakangi informasi tersebut. Kedua, manusia mempunyai kemampuan berpikir menurut alur kerangka berpikir tertentu. Karena itu, manusia mampu mengembangkan pengetahuannya dengan cepat dan mantap.2)
Keingin tahuan sebagai pembuka tabir ilmu pengetahuan dan kemampuan manusia mengembangan ilmu pengetahuan untuk menjawab kebutuhan- kebutuhannya, merupakan fenomena menarik untuk menilisik lebih jauh, hal apakah yang menjadi kerangka acuan terhadap pegembangan ilmu pengetahuan manusia? Kerangka acuan, merupakan fungsi dari ilmu yang mengkaji pengetahuan manusia yang disebut filsafat pengetahuan (epistemology atau theory of knowledge).3)
Makalah ini mengulas epistemologi dengan lingkup bahasan sebagaimana terangkum dalam rumusan masalah.
2. Rumusan Masalah.
Makalah ini membatasi pembahasan masalah epistemolog pada beberapa aspek berikut; 2.1 Pengertian dimensi epistemologi. 2.2 Persoalan-persoalan pokok dalam epistemologi. 2.3 Jenis-jenis epistemologi. 2.4 Epistemologi ilmu keislaman.
1) Fuad Hasan, Beberapa AsasMetodologi Ilmiah, Jakarta: Gramedia, 1997. 2) Jujun S. Suriasumantri, Filsafat Ilmu, Sebuah Pengantar Populer, Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 1990. 3) Toto Suharto, Filsafat Pendidikan Islam , Jakarta: Ar ruzz Media, 2014, Cet I, h.13.
2
3. Tujuan Penulisan
Makalah ini bertujuan, membantu pebelajar untuk mengetahui;
3.1 Pengertian dimensi epistemologi. 3.2 Persoalan-persoalan pokok dalam epistemologi. 3.3 Jenis-jenis epistemologi. 3.4 Epistemologi ilmu keislaman.
4. Manfaat Penulisan.
Ulasan mendalam yang berkaitan dengan dimensi epistemologi dalam makalah ini, diharapkan untuk memudahkan para pebelajar mengetahui dan memahami secara konprehensif topik kajian ini. Atas pemahaman yang baik itulah memungkinkan pebelajar memanfaatkannya dalam pengembaraan pencarian kebenaran.
BAB II PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Dimensi Epistemologi.
Dimensi berarti ukuran (panjang, lebar,tinggi, luas, dsb); matra; garis4). Dimensi juga bisa bermakna salah satu aspek yang meliputi atribut, elemen, item, fenomena, situasi atau faktor yang membentuk suatu entitas. Selain itu dimensi juga bisa digunakan untuk menunjukkan sisi, bagian, aspek atau sudut pandang sesuatu. Epistemologi berasal dari kata episteme dan logos yang berarti perkataan, pikiran, pengetahuan dan pengetahuan sistemik. Kata epistemologi sendiri berasal dari bahasa Yunani, terdiri dari dua kata, yaitu episteme (pengetahuan) dan logos (ilmu, pikiran, percakapan). Jadi epistemologi berarti ilmu, percakapan tentang pengetahuan atau ilmu pengetahuan.5) Kata episteme dalam bahasa Yunani berasal dari kata kerja epistamai yang berarti mendudukkan, menempatkan atau meletakkan. Maka, secara harfiah, episteme berarti pengetahuan sebagai upaya intelektual untuk menempatkan sesuatu pada kedudukan setepatnya. Di samping episteme untuk arti pengetahuan dalam bahasa Yunani juga dipakai kata gnosi sehingga epistemologi dalam sejarah pernah disebut gnoseologi. Sebagai kajian filosofis yang membuat telaah kritis dan analitis tentang dasar-dasar teoritis pengetahuan, epistemologi kadang juga disebut teori pengetahuan (theory of knowledge).6) Epistemologi
4) Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta: Balai Pustaka, 1995, Cet. ke-4.
3
merupakan teori pengetahuan yang membahas secara mendalam segenap proses yang terlibat dalam upaya untuk memperoleh pengetahuan. Pengetahuan yang diperoleh dengan proses tertentu yang dinamakan metode ilmiah disebut ilmu pengetahuan. Metode ilmiah yang membedakan antara ilmu dan pemikiran lainnya.
Merujuk pada ulasan di atas , maka dimensi epistemologi bermakna matra, elemen, faktor atau sudut pandang yang membuat telaah kritis dan analitis tentang dasar-dasar teoritis pengetahuan atau teori pengetahuan.
2.2 Persoalan-persoalan Pokok dalam Epistemologi.
J. Sudarminta mengemukakan beberapa persoalan yang dikaji dalam epistemologi;
1. Apa itu pengetahuan? 2. Apa ciri-ciri hakikinya dan mana batas-batas ruang lingkupnya? 3. Apa beda antara pengetahuan dan pendapat? 4. Apa beda antara pengetahuan dan kepercayaan? 5. Bagaimana proses manusia mengetahui dapat dijelaskan dan bagaimana struktur dasar budi atau pikiran manusia itu bisa dijelaskan sehingga pengetahuan itu mungkin bagi manusia? 6. Apa peran imajinasi, introspeksi, intuisi, ingatan, persepsi indriawi, konsep,
dan putusan dalam kegiatan manusia mengetahui? 7. Apa artinya dan mana tolok ukurnya untuk dapat secara rasional dan
bertanggungjawab menyatakan bahwa saya tahu sesuatu? 8. Sesungguhnya manusia dapat tahu? 9. Bukankah sering terjadi bahwa orang merasa dirinya yakin tahu tentang
sesuatu tetapi ternyata keliru? 10. Mengapa manusia dapat keliru? 11. Apakah yang disebut kepastian dan keraguan? 12. Apakah kebenaran dan tolok ukurnya? 13. Apakah kebenaran sama dengan objektivitas? 14. Dapatlah kita mengetahui objek pada dirinya atau bukankah kita hanya dapat
mengetahui suatu objek sejauh yang tampak pada kita dan dapat kita tangkap? 15. Apa hubungan antara pengetahuan dan bahasa, pengetahuan dan kebudayaan? 16. Adakah hubungan antara pengetahuan dan kekuasaan? 17. Jika ada, bagaimana hubungan antara pengetahuan dan kekuasaan dapat
dijelaskan?7)
Secara garis besar dari sekian banyak persoalan epistemologi di atas, sebagaimana yang ditulis Idri yang dikutip dari Louis O. Katsoff, berkenaan dengan dua hal pokok; Pertama, pertanyaan yang mengacu pada sumber pengetahuan yang disebut dengan
5)Abd. Al Mun im dalam H. Idri, Epistemologi Ilmu Penget ahuan...,Jakarta: Kharisma Putra, 2015, Cet. Ke 1.
7) J. Sudarminta, Epistemologi Dasar, Yogyakarta: Kanisius, 2002.
4
pertanyaan epistemologis kefilsafatan yang erat hubungannya dengan ilmu jiwa. Kedua, pertanyaan yang merupakan masalah semantik yang menyangkut hubungan antara pengetahuan dan objek pengetahuan tersebut8).
Epistemologi sering dikaitkan dengan metode dan dan cara-cara mendapatkan pengetahuan. Terdapat lima cara untuk mendapatkan ilmu pengetahuan. Pertama, berdasarkan pada rasio yang dalam dunia filsafat penganutnya dikenal sebagai penganut paham rasionalisme. Rasionalisme mengatakan bahwa sumber pengetahuan terdapat pada akal. Pengalaman hanya sebagai peransang bagi pikiran. Kebenaran dan kesesatan terletak dalam ide bukan dalam objek yang kita pikirkan. Menurut paham ini, kebenaran diperoleh manusia dengan cara memikirkannya. Ide bagi kaum rasionalis bersifat a priori yang mendahului pengalaman.
Kedua, berdasar pada pengalaman yang diperoleh melalui alam empirik. Melalui pengalaman empirik, kita dapat memperoleh ilmu pengetahuan. Kita mengetahui bahwa es membeku karena kita melihatnya demikian atau karena seorang ilmuan telah melihatnya demikian. Unsur yang terdapat dalam kenyataan ini yaitu orang yang mengetahui dan objek yang diketahui, serta keadaan ketika mengetahui. Empirisme radikal menyatakan bahwa semua pengetahuan dapat dilacak dengan pengalaman indrawi dan segala yang tidak dapat dilacak dengan pancaindra bukan pengetahuan. Pengetahuan manusia tidak didapatkan melalui penalaran rasional yang abstrak tetapi melalui pengalaman kongkret. Dengan mengamati gejala-gejala alam dan gejala sosial, manusia dapat menemukan pengetahuan melalui penalaran induktif.
Ketiga, melalui intuisi dan wahyu. Intuisi bersifat personal dan tidk dapat diramalkan sehingga tidak dapat sebagai dasar untuk menyusun pengetahuan yang teratur9). Pengetahuan wahyu diperoleh melalui nabi-nabi yang mendapat wahyu dari Tuhan. Kebenaran pengetahuan wahyu berbeda dengan tiga pengetahuan sebelumnya yang bersifat relatif karena pengetahuan wahyu bersifat absolut.
Keempat, melalui fenomena alam. Menurut aliran fenomenalisme, sumber pengetahuan terletak tidak hanya apa yang diketahui oleh pancaindra tetapi gejala yang ditimbulkan oleh objek yang dijangkau oleh indra tersebut. Misalnya, kuman yang menyebabkan terjadinya penyakit tidak diketahui oleh pancaindra tetapi dapat diketahui melalui gejala yang ditimbulkannya.
Kelima, melalui penerapan metode ilmiah yang menyatakan bahwa sumber pengetahuan adalah disamping akal juga pengalaman empirik10). Moh. Nazir berpendapat, terdapat enam kriteria metode ilmiah, yaitu: berdasar fakta, bebas dari prasangka, menggunakan prisip-prinsip analisis, menggunakan hipotesis, menggunakan ukuran objektif, dan menggunakan teknik kuantitatif11).
8) H. Idri, Epistemologi Ilmu Pengetahuan, Jakarta: Kharisma Putra Utama, 2015. 9) W.Gulo, Metodologi Penelitian, Jakarta: Grasindo, 2003. 10) Louis OK, Pengantar Filsafat, alih bahasa Soejono S, Yogyakarta: Tiara Wacana, 1996.
5
Ulasan di atas, memperjelas adanya lima aliran dalam epistemologi. Pertama, aliran idealism atau rasionalism, yaitu aliran pemikiran yang mementingkan peran akal sebagai sumber ilmu pengetahuan. Kedua, aliran realism atau empiricism, yaitu aliran yang mementingkan peran pancaindra sebagai sumber ilmu pengetahuan. Ketiga, aliran intuisi yang menekankan peran intuisi -(daya atau kemampuan mengetahui atau memahami sesuatu tanpa dipikirkan atau dipelajari; bisikan hati; gerak hati)12)- di atas akal dan indra sebagai sumber ilmu pengetahuan13). Keempat, aliran fenomenologis, yaitu aliran pemikiran yang mementingkan gejala yang ditimbulkan oleh objek yang dijangkau oleh indra bukan apa yang diketahui oleh pancaindra tersebut. Kelima, aliran yang menekankan penggunaan metode ilmiah, yaitu aliran menggabungkan antara peran akal dan pengalaman sebagai sumber pengetahuan.
2.3 Jenis-jenis Epistemologi.
Epistemologi, kata J. Sudarminta, dapat dibagi menjadi tiga jenis; epistemologi metafisis, epistemologi skeptis, dan epistemologi kritis14). Epistemologi metafisis merupakan epistemologi yang mendekati gejala pengetahuan dengan bertititik tolak dari pengandaian metafisika (ilmu pengetahuan yang berhubungan dengan hal-hal non fisik atau tidak kelihatan 15)) tertentu. Epistemologi kategori ini berangkat dari suatu paham tertentu tentang kenyataan, kemudian membahas tentang bagaimana manusia mengetahui kenyataan itu. Kenyataan yang disebut juga yang ada atau being apakah yang ada itu berupa materi atau ide-ide- dikaji melalui epistemogi metafisis disertai dengan metode-metode yang digunakan untuk mengetahuinya. Plato, misalnya, meyakini bahwa realitas yang sejati yaitu kenyataan dalam dunia ide-ide sedang kenyataan yang terdapat di dunia ini hanyalah realitas fana dan sebagai gambaran kabur di dunia ide-ide. Dengan demikian, Plato dalam epistemologinya memahami kegiatan mengetahui sebagai kegiatan jiwa mengingat (anamnesis) kenyataan sejati yang pernah dilihatnya dalam dunia ide-ide. Kenyataan yang ada dalam dunia ini hanyalah fatamorgana dan realitas sesungguhnya terdapat dalam ide. Karena itu, pengetahuan (episteme), sebagai sesuatu yang objektif, universal, dan tetap tak berubah berbeda dengan pendapat (doxa) yang bersifat subjektif, partikular, dan berubah-ubah.
Pendekatan dengan menggunakan epistemologi metafisis mengalami kesulitan karena beberapa hal. Pertama, epistemologi metafisis secara tidak kritis begitu saja mengandaikan bahwa kita dapat mengetahu kenyataan yang ada, dialami dan dipikirkan , serta hanya menyibukkan diri dengan uraian tentang seperti apa pengetahuan kategori itu dan bagaimana memperolehnya. Kedua, pandangan dasar atau metafisika tentang kenyataan yang
11) Moh. Nazir, Metode Penelitian, Jakarta: Galia Indonesia, 1985. 12) Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta: Balai Pustaka, 1995, Cet. ke-4. 13)Amin Abdullah, Studi Agama, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2002. 14) J. Sudarminta, Epistemologi Dasar, Yogyakarta: Kanisius, 2002. 15) im Penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta: Balai Pustaka, 1995, Cet. ke-4 im Penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta: Balai Pustaka, 1995, Cet. ke-4
6
dijadikan fondasi epistemologi metafisis juga masih kontroversial. Ketiga, pengetahuan sebagai produk epistemologi metafisis hanya dapat diperoleholeh filsuf dengan kemampuan berpikir kritis, radikal, dan kontemplatif bukan pengetahuan empirik yang diperoleh dari lapangan dan dinilai sebagai sesuatu yang maya oleh epistemologi jenis ini.
Epistemologi skeptis berdasar pada proposisi pembuktian terlebih dahulu apa yang dapat diketahui sebagai suatu yang benar-benar riil dan tak diragukan. Kebenaran sesuatu harus dibuktikan terlebih dahulu sehingga dapat diterima. Jika tidak, maka kebenaran itu diragukan.
Kesulitan yang dihadapai dengan pendekatan epistemologi jenis ini terletak pada kondisi ketika seseorang sudah masuk dalam sarang skeptisisme (paham yang memandang segala sesuatu selalu tidak pasti (meragukan, mencurigakan)) konsisten dengan sikapnya, tak gampang menemukan jalan keluar.
Epistemologi kritis tidak memprioritaskan metafisika atau epistemologi tertentu, tetapi berangkat dari asumsi, prosedur, dan kesimpulan pemikiran akal sehat atau asumsi, prosedur, dan kesimpulan pemikiran ilmiah sebagaimana ditemukan dalam kehidupan, kemudian ditanggapi secara kritis. Keyakinan dan pendapat-pendapat yang ada dijadikan data penyelididkan atau bahan refleksi kritis untuk diuji kebenarannya berdasar nalar sehat. Epistemologi kritis, kata J. Sudarminta16), melebihi dua epistemologi sebelumnya karena didasarkan pada asumsi, prosedur, dan kesimpulan pemikiran akal sehat atau asumsi, prosedur, dan kesimpulan pemikiran ilmiah.
Khudori Soleh, sebagaimana dalam bukunya Filsafat Islam, menyebutkan epistemologi dikategorikan tiga jenis; epistemologi bayani, epistemologi irfani, dan epistemologi burhani17). Epistemologi bayani (penalaran berdasarkan teks) adalah metode pemikiran khas Arab yang menekankan otoritas teks (nash), secara langsung atau tidak langsung, dan dijustifikasi oleh akal kebahasaan yang digali lewat infrensi (istidlal). Secara langsung artinya memahami teks sebagai pengetahuan jadi dan langsung mengaplikasikannya tanpa perlu pemikiran; secara tidak langsung berarti memahami teks sebagai pengetahuan mentah sehingga perlu tafsir dan penalaran. Meski demikian, hal ini tidak berarti akal atau rasio bisa bebas menentukan makna dan maksudnya, tetapi harus bersandar pada teks. Dalam bayani, kata Al Jabiri, rasio dianggap tidak mampu memberikan pengetahuan kecuali disandarkan pada teks. Dalam perspektif keagamaan, sasaran bidik metode bayani adalah aspek eksoterik (syariat).
Epistemologi irfani adalah salah satu model penalaran yang dikenal dalam tradisi keilmuan Islam yang dikembangkan dan digunakan dalam masyarakat sufi. Irfan, kata dasarnya adalah arafa, semakna dengan makrifat, yang berarti pengetahuan, tetapi berbeda dengan ilmu ( ilm). Irfan atau makrifat berkaitan dengan pengetahuan yang diperoleh secara langsung dari Tuhan (kasyf) lewat olah ruhani yang dilakukan atas cinta atau kemauan yang
16) J. Sudarminta, Epistemologi Dasar, Yogyakarta: Kanisius, 2002. 17) Khudori Soleh, Filsafat Islam dari Klasik Hingga Kontemporer, Yogyakarta: Ar Ruzz Media, 2016.
7
kuat, sedangkan ilmu menunjuk pada pengetahuan yang diperoleh lewat transformasi atau rasionalitas (aql). Oleh Mehdi, pengetahuan irfan inilah yang disebut sebagai pengetahuan yang dihadirkan (ilm hudluri) yang berbeda dengan pengetahuan rasional yang disebut sebagai pengetahuan yang dicari (ilm muktasab). Perspektif Henri, pengetahuan irfan diistilahkannya sebagai pengetahuan tentang (knowledge of) sebuah pengetahuan yang diperoleh secara langsung, yang berbeda dengan pengetahuan mengenai (knowledge about) sebuah pengetahuan diskursif yang diperoleh lewat perantara, pancaindra ataupun rasio.
Epistemologi burhani berbeda dengan epistemologi bayani yang mendasarkan diri pada teks dan irfani yang mendasarkan diri pada intuisi atau pengalaman spritual, burhani menyandarkan diri pada kekuatan rasio atau akal, yang dilakukan lewat dalil-dalil logika. Al- burhani (demonstratif) secara sederhana diartikan sebagai suatu aktivitas berpikir untuk menetapkan kebenaran proposisi melalui pendekatan deduktif dengan mengaitkan proposisi yang satu dengan proposisi yang lain yang telah terbukti kebenarannya.
2.4 Epistemologi Ilmu Keislaman.
Epistemologi ilmu keislaman yaitu sains filosofis tentang asal usul (pengetahuan) dan kebenaran ilmu keislaman yang berpuncak kepada kebenaran yang membawa pada metafisika (tauhid). Tauhid, oleh Zainuddin S. Nainggolan, hukum dasar yang inti atau isi pokoknya antara lain Allah Esa 18).
Dalam filsafat ilmu Islam dikenal dua cabang ilmu, yaitu ilmu tentang agama (al - ilm bi al-din) dan ilmu tentang kealaman (al- ilm bi al-kainat). Kaidah ilmu pengetahuan keislaman, kata Juhaya S. Praja, sebagaimana keilmuan pada umumnya ada dua. Pertama, ilm al-tabi yang dapat disebut juga dengan ilmu subyektif yaitu pengetahuan tentang sesuatu yang keberadaanya bergantung kepada ada atau tidaknya pengetahuan subjek tentang sesuatu yang menjadi objek pengetahuan itu. Sifat ilmu ini, objek itu ada, baik diketahui atau tidat keberadaannya, oleh subjek. Menyikapi hal ini, manusia mengelompok menjadi; kelompok percaya dan kelompok ingkar.
Kedua, ilm al-matbu yang dikenal pula dengan ilmu objektif, yaitu pengetahuan yang keberadaan objeknya tidak tergantung kepada ada atau tidaknya pengetahuan subjek mengenai objek tersebut. Sifat ilmu ini, keberadaan objeknya bergantung pada pengetahuan dan keinginan subjek. Pengetahuan kita tentang duduk dan berdiri, misalnya, bergantung pada pengetahuan dan keinginan kita untuk mewujudkannya.
Dalam dunia pemikiran muslim setidaknya terdapat tiga jenis teori pengetahuan. Pertama, pengetahuan rasional. Kedua, pengetahuan idrawi. Ketiga, pengetahuan kasyf (intuisi) yang diperoleh melalui ilhami19). Cara pertama dan ketiga dominan dalam dunia pemikiran muslim. Hal inilah, menurut Amin Abdullah, yang memicu kesan bahwa pemikir muslim terlalu rigid, puritan, dan dikotomis dalam memecahkan persoalan sehingga mereka
18) Zainuddin S. Nainggolan, Inilah Islam Jilid I, Jakarta: Kalam Mulia, Cet. Ke-9, 2014, hal 16. 19) H. Idri, Epistemologi Ilmu Pengetahuan, Jakarta: Kharisma Putra Utama, 2015.
8
sulit berpikir sintetis, elastis, dan fragmatis. Pemicunya, karena literatur-literatur pemikiran muslim lebih banyak mengajukan satu pilihan berpikir bukan beberapa pilihan yang bisa menjadi alternatif.
Mencermati titik tekan epistemologi di dunia Islam, hanya berkembanag pengetahuan rasional dan kasyf, sisi empirik saatnya diletakkan secara proporsional dalam epistemologi Islam. Mengingat aksentuasi epistemologi berpengaruh besar dalam konstruksi bangunan pemikiran secara utuh. Bahkan lebih jauh membentuk dan memengaruhi pandangan dunia.
Catatan Hamid Hasan dan Sayid Ali Asyraf, yang mengajak cendekiawan muslim memperhatikan Al Quran yang di dalamnya terdapat setidaknya tiga aspek pokok ilmu pengetahuan yang menjadi wilayahnya, sebagai berikut;
1. Aspek etik, termasuk aspek perseptual dalam ilmu pengetahuan. Aspek ini berkaitan
dengan prinsip dasar mengenai keyakinan, perbuatan, dan moralitas baik untuk perorangan maupun kemasyarakatan dengan sistem atau pandangan hidup yang sempurna untuk tercapainya kebahagiaan di dunia dan akhirat. 2. Aspek historik dan psikologik dalam ilmu pengetahuan yang berkaitan dengan
berbagai sikap dan cara berpikir manusia yang memengaruhi dan menentukan persepsi mereka terhadap kebenaran dan realitas serta tanggungjawab terhadap berbagai konsekwensi yang timbul . 3. Aspek abservatif dan eksperimental dalam ilmu pengetahuan. Aspek ini berkali-kali
ditekankan oleh para ilmuan sebagai sumber utama untuk memperoleh ilmu pengetahuan tentang benda-benda, hubungan antar benda, dan hubungan antar benda dengan Tuhan20).
Muhammad Iqbal, pemikir asal Pakistan, sebagaimana dikutif H. Idri, mengingatkan dengan tiga cara memperoleh ilmu pengetahuan itulah merupakan satu- satunya alat untuk mendapatkan tauhid sebagai faktor yang berperan dalam kehidupan intelektual dan emosional manusia yang merupakan landasan spritual dan emosional tertinggi dalam Islam. Dengan demikian epistemologi ilmu keislaman yang banyak berkutat pada wilayah rasional dan kasyf yang kurang memperhatikan empirical studies perlu dilakukan pembenahan dengan memasukkan pendekatan-pendekatan ilmiah dalam analisisnya. Metode-metode analisis seperti metode deduksi-kohesi, induksi- korespondensi, metode ilmiah, fenomenologis, dan metode struktural fungsional layak diperhatikan dalam mengkaji ilmu-ilmu keislaman21). Sembari kita berhati-hati, bahwa memang ada perbedaan mendasar antara epistemologi barat yang hanya mengandalkan
20) Hamid HB dan Sayid AA, Konsep Universitas Islam, Yogyakarta:Tiara Wacana, 1989, hlm. 4. 21) H. Idri, Epistemologi Ilmu Pengetahuan, Jakarta: Kharisma Putra Utama, 2015.
.
9
empirisme dan rasionalisme, dengan epistemologi Islam yang mengakui sumber ilmu sekaligus, yaitu; indera, akal, intuisi dan wahyu.
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan.
Kesimpulan dari ulasan yang telah dipaparkan sebagai berikut;
1. Dimensi epistemologi bermakna matra, elemen, faktor atau sudut
pandang yang membuat telaah kritis dan analitis tentang dasar-dasar teoritis pengetahuan atau teori pengetahuan. 2. Secara garis besar dari sekian banyak persoalan epistemologi, berkenaan
dengan dua hal; Pertama, pertanyaan yang mengacu pada sumber pengetahuan yang disebut dengan pertanyaan epistemologis kefilsafatan yang erat hubungannya dengan ilmu jiwa. Kedua, pertanyaan yang merupakan masalah semantik yang menyangkut hubungan antara pengetahuan dan objek pengetahuan tersebut. 3. Epistemologi, kata J. Sudarminta, dapat dibagi menjadi tiga jenis;
epistemologi metafisis, epistemologi skeptis, dan epistemologi kritis. Perspektif Khudori Soleh, kategorisasi epistemologi, juga tiga jenis; epistemologi bayani, epistemologi irfani dan epistemologi burhani. 4. Epistemologi Islam mengakui empat sumber ilmu sekaligus, yaitu;
indera, akal, intuisi dan wahyu.
3.2 Saran.
Pembahasan dimensi epistemologi pada makalah ini, diakui masih sangat terbatas. Nilai gunanya bagi pebelajar akan lebih optimal jika sekiranya ada yang berkenan mengulasnya lebih komprehensif.

Sumbangsaran perbaikan makalah ini sangat kami perlukan. Kritik dan masukan bisa di email ke nursyamsahadis67@gmail.com.

DIMENSI ONTOLOGI

MAKALAH FILSAFAT ILMU DIMENSI ONTOLOGI
Disusun oleh:
Sandra Sovie Novia Sari Purnama 1613090003 Muhammad Ferdyansyah 1613090008 Muhammad Rumi Akromi 1613090005
PASCASARJANA UNIVERSITAS ISLAM ATTAHRIYAH PROGRAM STUDI MANAJEMEN PENDIDIKAN ISLAM JAKARTA 2016 M / 1438 H
1
2
BAB I
PENDAHULUAN
1. Latar Belakang
Dalam mempelajari ilmu pengetahuan, manusia seringkali menghadapi berbagai
objek untuk dipikirkan secara mendalam. Kaitannya dengan hal tersebut, ontologi
membahas keberadaan sesuatu yang bersifat konkret dan hakiki. Inilah sebabnya
bagian ini dinamakan teori hakikat. Pembicaraan mengenai hakikat sangatlah luas,
meliputi segala yang ada dan yang mungkin ada. Hakikat ada adalah kenyataan
sebenarnya bukan kenyataan sementara atau berubah-ubah.
Ada juga yang menamakan bagian ini ontology. Secara ringkas ontologi
membahas realitas atau suatu entitas dengan apa adanya. Pembahasan mengenai
ontologi berarti membahas kebenaran suatu fakta.
Ontologi juga merupakan salah satu dari obyek garapan filsafat ilmu yang
menetapkan batas lingkup dan teori tentang hakikat realitas yang ada, baik berupa
wujud fisik, maupun metafisik.
Sedangkan Ontologi atau bagian metafisika yang umum, membahas segala
sesuatu yang ada secara menyeluruh yang mengkaji persoalan seperti hubungan akal
dengan benda, hakikat perubahan, pengertian tentang kebebasan dan lainnya. Dalam
pemahaman ontologi ditemukan pandangan-pandangan pokok pemikiran, seperti
monoisme, dualisme, pluralisme, nikhilisme, dan agnotisime.
2. Rumusan Masalah
2.1 Apa definisi dari dimensi Ontologi?
2.2 Apa saja bidang kajian Dimensi Ontologi?
2.3 Apa aliran dalam metafisika Ontologi?
3. Tujuan
3.1 Menjelaskan definisi Dimensi Ontologi
3.2 Menjelaskan bidang kajian Dimensi Ontologi
3.3 Menjelaskan aliran dalam metafisika Ontologi
3
BAB II
PEMBAHASAN
1. Pengertian Ontologi
Kata Ontologi berasal dari bahasa Yunani, yaitu “onta” yang berarti sesuatu
“yang sungguh-sungguh ada”, “kenyataan yang sesungguhnya”, dan “logos” yang
berarti “studi tentang”, “studi yang membahas sesuatu” (Angeles, 1.981). Jadi,
ontologi adalah studi yang membahas sesuatu yang ada. Secara sungguh-sungguh
ontologi juga diartikan sebagai metafisika umum yaitu cabang filsafat yang
mempelajari sifat dasar dari kenyataan yang terdalam, ontologi membahasa asas-asas
rasional dari kenyataan.1
Sedangkan Jujun S. Suriasamantri mengatakan bahwa ontologi membahas apa
yang ingin kita ketahui, seberapa jauh kita ingin tahu, atau dengan perkataan lain
suatu pengkajian mengenai yang “ada”.
Jadi dapat disimpulkan bahwa Menurut bahasa, ontologi adalah ilmu tentang
hakikat yang ada. Menurut istilah, ontologi adalah ilmu yang membahas tentang
hakikat yang ada, yang merupakan kenyataan yang asas, baik yang berbentuk jasmani
atau konkret, maupun rohani atau abstrak.
2. Bidang Kajian Ontologi
Ontologi pertama kali diperkenalkan oleh Rudolf Goclenius pada tahun 1636 M
yang menamai teori tentang hakikat yang ada bersifat metafisis. Dalam
perkembangannya, Christian Wolff (1679 – 1754 M) membagi metafisika menjadi
dua, yaitu metafisika umum dan metafisika khusus. Metafisika umum dimaksudkan
sebagai istilah lain dari ontologi. Sedang metafisika khusus masih dibagi lagi menjadi
kosmologi, psikologi dan teologi. Objek kajian ontologi adalah hakikat seluruh
kenyataan. Yang nantinya, objek ini melahirkan pandangan-pandangan (point of
1 Drs. H.A.Fuad Ihsan, Filsafat Ilmu , Jakarta : Rineka Cipta, 2010 h.222
4
view) atau aliran-aliran pemikiran dalam kajian ontologi antara lain: Monoisme,
Dualisme, Pluralisme, Nihilisme, dan Agnotisisme.
3. Aliran-aliran Metafisika dalam Ontologi
3.1. Monoisme
Paham ini menganggap bahwa hakikat yang asal dari seluruh
kenyataan itu hanyalah satu saja, tidak mungkin dua, baik yang asal berupa
materi ataupun rohani. Paham ini kemudian terbagi kedalam 2 aliran :
a). Materialisme
Materialisme dapat diberi definsis dengan beberapa cara, diantaranya:
Pertama; materialisme adalah teori yang mengatakan bahwa atom materi
yang berada sendiri dan merupakan unsur-unsur yang membentuk alam
dan bahwa akal dan kesadaran (consciousness); Kedua, bahwa doktrin
alam semesta dapat ditafsirkan seluruhnya dengan sains fisik.
Aliran materialisme ini menganggap bahwa sumber yang asal itu
adalah materi, bukan rohani. Aliran pemikiran ini dipelopori oleh Bapak
Filsafat yaitu Thales (624-546 SM). Dia berpendapat bahwa sumber asal
adalah air karena pentingnya bagi kehidupan. Aliran ini sering juga
disebut naturalisme. Menurutnya bahwa zat mati merupakan kenyataan
dan satu-satunya fakta. Yang ada hanyalah materi atau alam, sedangkan
jiwa atau ruh tidak berdiri sendiri.
Anaximander (585-525 SM). Dia berpendapat bahwa unsur asal itu
adalah udara dengan alasan bahwa udara merupakan sumber dari segala
kehidupan. Dari segi dimensinya paham ini sering dikaitkan dengan teori
Atomisme. Menurutnya semua materi tersusun dari sejumlah bahan yang
disebut unsur. Unsur-unsur itu bersifat tetap tak dapat dirusakkan. Bagian-
bagian yang terkecil dari itulah yang dinamakan atom-atom. Demokritos
(460-370 SM). Ia berpendapat bahwa hakikat alam ini merupakan atom-
atom yang banyak jumlahnya, tak dapat di hitung dan amat halus. Atom-
atom inilah yang merupkan asal kejadian alam.
5
b). Idealisme
Kata idealisme dalam filsafat mempunyai arti yang sangat berbeda dari
artinya dalam bahasa sehari-hari. Secara umum kata itu berarti:
Pertama, seorang yang menerima ukuran moral yang tinggi, estetika dan
agama serta menghayatinya; Kedua, orang yang dapat melukiskan dan
menganjurkan suatu rencana atau program yang belum ada. Tiap
pembaharu sosial adalah seorang idealis dalam arti kedua ini, karena ia
menyokong sesuatu yang belum ada.
Arti falsafi dari kata idealisme ditentukan oleh arti biasa dari
kata ide. Ringkasnya, idealisme mengatakan bahwa realitas terdiri atas
ide-ide, fikiran-fikiran, akal (mind) atau jiwa (selves) dan bukan benda
material dan kekuatan. Idealisme menekankan mind sebagai hal yang lebih
dahulu dari pada materi. Jika materialisme mengatakan bahwa materi
adalah riil dan akal (mind) adalah fenomena yang menyertainya, maka
idealisme mengatakan bahwa akal itulah yang riil dan materi adalah
produk sampingan. Dengan demikian, idealisme beranggapan bahwa
hakekat benda-benda yang ada itu adalah idea tau akal, atau jiwa; bukan
materi.
Idealisme adalah suatu pandangan dunia atau metafisik yang
mengatakan bahwa realitas dasar terdiri atas, atau sangat erat
hubungannya dengan ide, pikiran atau jiwa. Dunia mempunyai arti yang
berlainan dari apa yang nampak pada permukaannya. Dunia dipahami dan
ditafsirkan oleh penyelidikan tentang hukum-hukum fikiran dan
kesadaran, dan tidak hanya oleh metode ilmu obyektif semata-mata.2
Idealisme diambil dari kata “idea” yaitu sesuatu yang hadir dalam
jiwa.Aliran ini menganggap bahwa dibalik realitas fisik pasti ada sesuatu
yang tidak tampak. Bagi aliran ini, sejatinya sesuatu justru terletak dibalik
yang fisik. Ia berada dalam ide-ide, yang fisik bagi aliran ini dianggap
2 Ibid, h.29
6
hanya merupakan bayang-bayang, sifatnya sementara, dan selalu menipu.
Eksistensi benda fisik akan rusak dan tidak akan pernah membawa orang
pada kebenaran sejati.
3.2. Dualisme
Dualisme merupakan aliran filsafat yang mencoba memadukan antara dua
faham yang saling bertentangan yaitu materialisme dengan idealisme. Materialisme
mengatakan bahwa materi itulah yang hakekat, sedangkan idea atau ruh bukan
hakekat. Sedangkan idealisme sebaliknya justru idealah yang hakekat sedangkan
materi bukan hakekat. Menurut materialisme, ruh muncul karena ada materi, tidak
mungkin ada ruh jika tanpa ada materi. Sedangkan menurut idealism justru
munculnya materi karena adanya ruh. Materi tidak aka nada jika tidak ada ruh.
Dualisme mengatakan bahwa baik materi maupun ruh sama-sama hakekat.
Materi muncul bukan karena adanya ruh, begitu pun ruh sama-sama hakekat.
Materi muncul bukan karena adanya ruh, begitu pun ruh muncul bukan karena
adanya materi. Tetapi dualisme juga masih mempunyai masalah; yaitu tentang
hubungan antara materi dengan ruh, bagaimana bisa terjadi keselarasan antara
materi dengan ruh dan idea. Kita lihat sebuah contoh, jika jiwa sedang sehat maka
badanpun sehat kelihatannya, sebaliknya, jika jiwa seseorang sedang penuh dengan
kedukaan biasanya badannya pun ikut sedih, maka murunglah wajah orang tersebut.
Contoh diatas menggambarkan adanya hubungan atau kerjasama antara jiwa
dengan badan, kerjasama yang terjadi secara spontanitas atau reflektif. Masalahnya,
kenapa terjadi bentuk kerjasama dan hubungan demikian dan siapa yang
memadukannya? ini adalah masalah dualisme.3
3.3. Pluralisme
Paham ini berpandangan bahwa segenap macam bentuk merupakan
kenyataan. Lebih jauh lagi paham ini menyatakan bahwa kenyataan alam ini
tersusun dari banyak unsur.
3 Ibid, h. 30-31
7
Tokoh aliran ini pada masa Yunani Kuno adalah Anaxagoras dan
Empedocles yang menyatakan bahwa substansi yang ada itu terbentuk dan terdiri
dari 4 unsur, yaitu tanah, air, api, dan udara.
Tokoh modern aliran ini adalah William James (1842-1910 M) yang
terkenal sebagai seorang psikolog dan filosof Amerika. Dalam bukunya The
Meaning of Truth, James mengemukakan bahwa tiada kebenaran yang mutlak,
yang berlaku umum, yang bersifat tetap, yang berdiri sendiri, lepas dari akal yang
mengenal. Apa yang kita anggap benar sebelumnya dapat dikoreksi atau diubah
oleh pengalaman berikutnya.
3.4. Nihilisme
Nihilisme berasal dari bahasa Latin yang berarti nothing atau tidak ada.
Doktrin tentang nihilisme sudah ada semenjak zaman Yunani Kuno, tokohnya
yaitu Gorgias (483- 360 SM) yang memberikan tiga proposisi tentang realitas
yaitu: Pertama, tidak ada sesuatupun yang eksis, Kedua, bila sesuatu itu ada ia
tidak dapat diketahui, Ketiga, sekalipun realitas itu dapat kita ketahui, ia tidak akan
dapat kita beritahukan kepada orang lain. Tokoh modern aliran ini diantaranya:
Ivan Turgeniev (1862 M) dari Rusia dan Friedrich Nietzsche (1844-1900 M),
dengan pendapatnya bahwa dunia terbuka untuk kebebasan dan kreativitas
manusia.
3.5. Agnotisisme
Paham ini mengingkari kesanggupan manusia untuk mengetahui hakikat
benda. Baik hakikat materi maupun ruhani. Kata Agnoticisme berasal dari bahasa
Greek yaitu Agnostos yang berarti unknown. A artinya not, Gno artinya know.
Agnotisisme adalah aliran yang mengatakan bahwa manusia tidak mungkin
mengetahui hakekat sesuatu di balik kenyataan ini, Manusia tidak mungkin
mengetahui apa hakekat batu, air, api dan lain sebagainya. Sebab menurut faham
ini kemampuan manusia sangat terbatas dan tidak mungkin tahu apa hakekat
sesuatu yang ada, baik oleh inderanya maupun oleh pikirannya. Aliran ini
8
mempunyai masalah yaitu tentang siapa sebenarnya yang bisa mengetahui hakekat
sesuatu yang ada? aliran ini tidak memberikan jawabannya.4
4 Ibid, h.31
9
BAB III
PENUTUP
1. KESIMPULAN
Dari penjelasan tersebut, penyusun dapat menyimpulkan bahwa ontologi
merupakan salah satu diantara lapangan penyelidikan kefilsafatan yang paling kuno.
Ontologi berasal dari bahasa Yunani yang berarti teori tentang keberadaan sebagai
keberadaan. Pada dasarnya, ontologi membicarakan tentang hakikat tentang segala
sesuatu. Hakikat disini berarti kenyataan atau realitas.
Dalam ontologi ditemukan pandangan-pandangan pokok pemikiran, yaitu
monoisme, dualisme, pluralisme, nihilisme, dan agnostisisme. Monoisme adalah
paham yang menganggap bahwa hakikat asalnya sesuatu itu hanyalah satu. Asal
sesuatu itu bisa berupa materi (air, udara) maupun ruhani (spirit, ruh). Dualisme
adalah aliran yang berpendapat bahwa asal benda terdiri dari dua hakikat (hakikat
materi dan ruhani, hakikat benda dan ruh, hakikat jasad dan spirit). Pluralisme adalah
paham yang mengatakan bahwa segala hal merupakan kenyataan. Nihilisme adalah
paham yang tidak mengakui validitas alternatif yang positif. Dan agnostisisme adalah
paham yang mengingkari terhadap kemampuan manusia dalam mengetahui hakikat
benda.
Jadi, dapat disimpulkan bahwa ontologi meliputi hakikat kebenaran dan
kenyataan yang sesuai dengan pengetahuan ilmiah, yang tidak terlepas dari perspektif
filsafat tentang apa dan bagaimana yang “ada” itu. Adapun monoisme, dualisme,
pluralisme, nihilisme, dan agnostisisme dengan berbagai nuansanya, merupakan
paham ontologi yang pada akhirnya menentukan pendapat dan kenyakinan kita
masing-masing tentang apa dan bagaimana yang “ada” itu. (what’s being)
10
DAFTAR PUSTAKA
Ihsan, Drs. H.A. Fuad, Filsafat Ilmu, Jakarta: Rineka Cipta, 2010.
S. Praja, DR. Juhaya, Aliran-aliran Filsafat Dan Etika Suatu Pengantar, Bandung:
Yayasan Piara, 1997
Bakhtiar, Amsal, Filsafat Ilmu. Jakarta
Suriasumantri , Jujun S. Pengantar Ilmu dalam Perspektif.