Senin, 24 Oktober 2016

DIMENSI ONTOLOGI

MAKALAH FILSAFAT ILMU DIMENSI ONTOLOGI
Disusun oleh:
Sandra Sovie Novia Sari Purnama 1613090003 Muhammad Ferdyansyah 1613090008 Muhammad Rumi Akromi 1613090005
PASCASARJANA UNIVERSITAS ISLAM ATTAHRIYAH PROGRAM STUDI MANAJEMEN PENDIDIKAN ISLAM JAKARTA 2016 M / 1438 H
1
2
BAB I
PENDAHULUAN
1. Latar Belakang
Dalam mempelajari ilmu pengetahuan, manusia seringkali menghadapi berbagai
objek untuk dipikirkan secara mendalam. Kaitannya dengan hal tersebut, ontologi
membahas keberadaan sesuatu yang bersifat konkret dan hakiki. Inilah sebabnya
bagian ini dinamakan teori hakikat. Pembicaraan mengenai hakikat sangatlah luas,
meliputi segala yang ada dan yang mungkin ada. Hakikat ada adalah kenyataan
sebenarnya bukan kenyataan sementara atau berubah-ubah.
Ada juga yang menamakan bagian ini ontology. Secara ringkas ontologi
membahas realitas atau suatu entitas dengan apa adanya. Pembahasan mengenai
ontologi berarti membahas kebenaran suatu fakta.
Ontologi juga merupakan salah satu dari obyek garapan filsafat ilmu yang
menetapkan batas lingkup dan teori tentang hakikat realitas yang ada, baik berupa
wujud fisik, maupun metafisik.
Sedangkan Ontologi atau bagian metafisika yang umum, membahas segala
sesuatu yang ada secara menyeluruh yang mengkaji persoalan seperti hubungan akal
dengan benda, hakikat perubahan, pengertian tentang kebebasan dan lainnya. Dalam
pemahaman ontologi ditemukan pandangan-pandangan pokok pemikiran, seperti
monoisme, dualisme, pluralisme, nikhilisme, dan agnotisime.
2. Rumusan Masalah
2.1 Apa definisi dari dimensi Ontologi?
2.2 Apa saja bidang kajian Dimensi Ontologi?
2.3 Apa aliran dalam metafisika Ontologi?
3. Tujuan
3.1 Menjelaskan definisi Dimensi Ontologi
3.2 Menjelaskan bidang kajian Dimensi Ontologi
3.3 Menjelaskan aliran dalam metafisika Ontologi
3
BAB II
PEMBAHASAN
1. Pengertian Ontologi
Kata Ontologi berasal dari bahasa Yunani, yaitu “onta” yang berarti sesuatu
“yang sungguh-sungguh ada”, “kenyataan yang sesungguhnya”, dan “logos” yang
berarti “studi tentang”, “studi yang membahas sesuatu” (Angeles, 1.981). Jadi,
ontologi adalah studi yang membahas sesuatu yang ada. Secara sungguh-sungguh
ontologi juga diartikan sebagai metafisika umum yaitu cabang filsafat yang
mempelajari sifat dasar dari kenyataan yang terdalam, ontologi membahasa asas-asas
rasional dari kenyataan.1
Sedangkan Jujun S. Suriasamantri mengatakan bahwa ontologi membahas apa
yang ingin kita ketahui, seberapa jauh kita ingin tahu, atau dengan perkataan lain
suatu pengkajian mengenai yang “ada”.
Jadi dapat disimpulkan bahwa Menurut bahasa, ontologi adalah ilmu tentang
hakikat yang ada. Menurut istilah, ontologi adalah ilmu yang membahas tentang
hakikat yang ada, yang merupakan kenyataan yang asas, baik yang berbentuk jasmani
atau konkret, maupun rohani atau abstrak.
2. Bidang Kajian Ontologi
Ontologi pertama kali diperkenalkan oleh Rudolf Goclenius pada tahun 1636 M
yang menamai teori tentang hakikat yang ada bersifat metafisis. Dalam
perkembangannya, Christian Wolff (1679 – 1754 M) membagi metafisika menjadi
dua, yaitu metafisika umum dan metafisika khusus. Metafisika umum dimaksudkan
sebagai istilah lain dari ontologi. Sedang metafisika khusus masih dibagi lagi menjadi
kosmologi, psikologi dan teologi. Objek kajian ontologi adalah hakikat seluruh
kenyataan. Yang nantinya, objek ini melahirkan pandangan-pandangan (point of
1 Drs. H.A.Fuad Ihsan, Filsafat Ilmu , Jakarta : Rineka Cipta, 2010 h.222
4
view) atau aliran-aliran pemikiran dalam kajian ontologi antara lain: Monoisme,
Dualisme, Pluralisme, Nihilisme, dan Agnotisisme.
3. Aliran-aliran Metafisika dalam Ontologi
3.1. Monoisme
Paham ini menganggap bahwa hakikat yang asal dari seluruh
kenyataan itu hanyalah satu saja, tidak mungkin dua, baik yang asal berupa
materi ataupun rohani. Paham ini kemudian terbagi kedalam 2 aliran :
a). Materialisme
Materialisme dapat diberi definsis dengan beberapa cara, diantaranya:
Pertama; materialisme adalah teori yang mengatakan bahwa atom materi
yang berada sendiri dan merupakan unsur-unsur yang membentuk alam
dan bahwa akal dan kesadaran (consciousness); Kedua, bahwa doktrin
alam semesta dapat ditafsirkan seluruhnya dengan sains fisik.
Aliran materialisme ini menganggap bahwa sumber yang asal itu
adalah materi, bukan rohani. Aliran pemikiran ini dipelopori oleh Bapak
Filsafat yaitu Thales (624-546 SM). Dia berpendapat bahwa sumber asal
adalah air karena pentingnya bagi kehidupan. Aliran ini sering juga
disebut naturalisme. Menurutnya bahwa zat mati merupakan kenyataan
dan satu-satunya fakta. Yang ada hanyalah materi atau alam, sedangkan
jiwa atau ruh tidak berdiri sendiri.
Anaximander (585-525 SM). Dia berpendapat bahwa unsur asal itu
adalah udara dengan alasan bahwa udara merupakan sumber dari segala
kehidupan. Dari segi dimensinya paham ini sering dikaitkan dengan teori
Atomisme. Menurutnya semua materi tersusun dari sejumlah bahan yang
disebut unsur. Unsur-unsur itu bersifat tetap tak dapat dirusakkan. Bagian-
bagian yang terkecil dari itulah yang dinamakan atom-atom. Demokritos
(460-370 SM). Ia berpendapat bahwa hakikat alam ini merupakan atom-
atom yang banyak jumlahnya, tak dapat di hitung dan amat halus. Atom-
atom inilah yang merupkan asal kejadian alam.
5
b). Idealisme
Kata idealisme dalam filsafat mempunyai arti yang sangat berbeda dari
artinya dalam bahasa sehari-hari. Secara umum kata itu berarti:
Pertama, seorang yang menerima ukuran moral yang tinggi, estetika dan
agama serta menghayatinya; Kedua, orang yang dapat melukiskan dan
menganjurkan suatu rencana atau program yang belum ada. Tiap
pembaharu sosial adalah seorang idealis dalam arti kedua ini, karena ia
menyokong sesuatu yang belum ada.
Arti falsafi dari kata idealisme ditentukan oleh arti biasa dari
kata ide. Ringkasnya, idealisme mengatakan bahwa realitas terdiri atas
ide-ide, fikiran-fikiran, akal (mind) atau jiwa (selves) dan bukan benda
material dan kekuatan. Idealisme menekankan mind sebagai hal yang lebih
dahulu dari pada materi. Jika materialisme mengatakan bahwa materi
adalah riil dan akal (mind) adalah fenomena yang menyertainya, maka
idealisme mengatakan bahwa akal itulah yang riil dan materi adalah
produk sampingan. Dengan demikian, idealisme beranggapan bahwa
hakekat benda-benda yang ada itu adalah idea tau akal, atau jiwa; bukan
materi.
Idealisme adalah suatu pandangan dunia atau metafisik yang
mengatakan bahwa realitas dasar terdiri atas, atau sangat erat
hubungannya dengan ide, pikiran atau jiwa. Dunia mempunyai arti yang
berlainan dari apa yang nampak pada permukaannya. Dunia dipahami dan
ditafsirkan oleh penyelidikan tentang hukum-hukum fikiran dan
kesadaran, dan tidak hanya oleh metode ilmu obyektif semata-mata.2
Idealisme diambil dari kata “idea” yaitu sesuatu yang hadir dalam
jiwa.Aliran ini menganggap bahwa dibalik realitas fisik pasti ada sesuatu
yang tidak tampak. Bagi aliran ini, sejatinya sesuatu justru terletak dibalik
yang fisik. Ia berada dalam ide-ide, yang fisik bagi aliran ini dianggap
2 Ibid, h.29
6
hanya merupakan bayang-bayang, sifatnya sementara, dan selalu menipu.
Eksistensi benda fisik akan rusak dan tidak akan pernah membawa orang
pada kebenaran sejati.
3.2. Dualisme
Dualisme merupakan aliran filsafat yang mencoba memadukan antara dua
faham yang saling bertentangan yaitu materialisme dengan idealisme. Materialisme
mengatakan bahwa materi itulah yang hakekat, sedangkan idea atau ruh bukan
hakekat. Sedangkan idealisme sebaliknya justru idealah yang hakekat sedangkan
materi bukan hakekat. Menurut materialisme, ruh muncul karena ada materi, tidak
mungkin ada ruh jika tanpa ada materi. Sedangkan menurut idealism justru
munculnya materi karena adanya ruh. Materi tidak aka nada jika tidak ada ruh.
Dualisme mengatakan bahwa baik materi maupun ruh sama-sama hakekat.
Materi muncul bukan karena adanya ruh, begitu pun ruh sama-sama hakekat.
Materi muncul bukan karena adanya ruh, begitu pun ruh muncul bukan karena
adanya materi. Tetapi dualisme juga masih mempunyai masalah; yaitu tentang
hubungan antara materi dengan ruh, bagaimana bisa terjadi keselarasan antara
materi dengan ruh dan idea. Kita lihat sebuah contoh, jika jiwa sedang sehat maka
badanpun sehat kelihatannya, sebaliknya, jika jiwa seseorang sedang penuh dengan
kedukaan biasanya badannya pun ikut sedih, maka murunglah wajah orang tersebut.
Contoh diatas menggambarkan adanya hubungan atau kerjasama antara jiwa
dengan badan, kerjasama yang terjadi secara spontanitas atau reflektif. Masalahnya,
kenapa terjadi bentuk kerjasama dan hubungan demikian dan siapa yang
memadukannya? ini adalah masalah dualisme.3
3.3. Pluralisme
Paham ini berpandangan bahwa segenap macam bentuk merupakan
kenyataan. Lebih jauh lagi paham ini menyatakan bahwa kenyataan alam ini
tersusun dari banyak unsur.
3 Ibid, h. 30-31
7
Tokoh aliran ini pada masa Yunani Kuno adalah Anaxagoras dan
Empedocles yang menyatakan bahwa substansi yang ada itu terbentuk dan terdiri
dari 4 unsur, yaitu tanah, air, api, dan udara.
Tokoh modern aliran ini adalah William James (1842-1910 M) yang
terkenal sebagai seorang psikolog dan filosof Amerika. Dalam bukunya The
Meaning of Truth, James mengemukakan bahwa tiada kebenaran yang mutlak,
yang berlaku umum, yang bersifat tetap, yang berdiri sendiri, lepas dari akal yang
mengenal. Apa yang kita anggap benar sebelumnya dapat dikoreksi atau diubah
oleh pengalaman berikutnya.
3.4. Nihilisme
Nihilisme berasal dari bahasa Latin yang berarti nothing atau tidak ada.
Doktrin tentang nihilisme sudah ada semenjak zaman Yunani Kuno, tokohnya
yaitu Gorgias (483- 360 SM) yang memberikan tiga proposisi tentang realitas
yaitu: Pertama, tidak ada sesuatupun yang eksis, Kedua, bila sesuatu itu ada ia
tidak dapat diketahui, Ketiga, sekalipun realitas itu dapat kita ketahui, ia tidak akan
dapat kita beritahukan kepada orang lain. Tokoh modern aliran ini diantaranya:
Ivan Turgeniev (1862 M) dari Rusia dan Friedrich Nietzsche (1844-1900 M),
dengan pendapatnya bahwa dunia terbuka untuk kebebasan dan kreativitas
manusia.
3.5. Agnotisisme
Paham ini mengingkari kesanggupan manusia untuk mengetahui hakikat
benda. Baik hakikat materi maupun ruhani. Kata Agnoticisme berasal dari bahasa
Greek yaitu Agnostos yang berarti unknown. A artinya not, Gno artinya know.
Agnotisisme adalah aliran yang mengatakan bahwa manusia tidak mungkin
mengetahui hakekat sesuatu di balik kenyataan ini, Manusia tidak mungkin
mengetahui apa hakekat batu, air, api dan lain sebagainya. Sebab menurut faham
ini kemampuan manusia sangat terbatas dan tidak mungkin tahu apa hakekat
sesuatu yang ada, baik oleh inderanya maupun oleh pikirannya. Aliran ini
8
mempunyai masalah yaitu tentang siapa sebenarnya yang bisa mengetahui hakekat
sesuatu yang ada? aliran ini tidak memberikan jawabannya.4
4 Ibid, h.31
9
BAB III
PENUTUP
1. KESIMPULAN
Dari penjelasan tersebut, penyusun dapat menyimpulkan bahwa ontologi
merupakan salah satu diantara lapangan penyelidikan kefilsafatan yang paling kuno.
Ontologi berasal dari bahasa Yunani yang berarti teori tentang keberadaan sebagai
keberadaan. Pada dasarnya, ontologi membicarakan tentang hakikat tentang segala
sesuatu. Hakikat disini berarti kenyataan atau realitas.
Dalam ontologi ditemukan pandangan-pandangan pokok pemikiran, yaitu
monoisme, dualisme, pluralisme, nihilisme, dan agnostisisme. Monoisme adalah
paham yang menganggap bahwa hakikat asalnya sesuatu itu hanyalah satu. Asal
sesuatu itu bisa berupa materi (air, udara) maupun ruhani (spirit, ruh). Dualisme
adalah aliran yang berpendapat bahwa asal benda terdiri dari dua hakikat (hakikat
materi dan ruhani, hakikat benda dan ruh, hakikat jasad dan spirit). Pluralisme adalah
paham yang mengatakan bahwa segala hal merupakan kenyataan. Nihilisme adalah
paham yang tidak mengakui validitas alternatif yang positif. Dan agnostisisme adalah
paham yang mengingkari terhadap kemampuan manusia dalam mengetahui hakikat
benda.
Jadi, dapat disimpulkan bahwa ontologi meliputi hakikat kebenaran dan
kenyataan yang sesuai dengan pengetahuan ilmiah, yang tidak terlepas dari perspektif
filsafat tentang apa dan bagaimana yang “ada” itu. Adapun monoisme, dualisme,
pluralisme, nihilisme, dan agnostisisme dengan berbagai nuansanya, merupakan
paham ontologi yang pada akhirnya menentukan pendapat dan kenyakinan kita
masing-masing tentang apa dan bagaimana yang “ada” itu. (what’s being)
10
DAFTAR PUSTAKA
Ihsan, Drs. H.A. Fuad, Filsafat Ilmu, Jakarta: Rineka Cipta, 2010.
S. Praja, DR. Juhaya, Aliran-aliran Filsafat Dan Etika Suatu Pengantar, Bandung:
Yayasan Piara, 1997
Bakhtiar, Amsal, Filsafat Ilmu. Jakarta
Suriasumantri , Jujun S. Pengantar Ilmu dalam Perspektif.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar