BAB II
PEMBAHASAN
1.
Sumber Dari Segala Sumber Kejahatan
Ditinjau dari
sudut Perbandingan Agama Tuhan ialah sesuatu,
apa atau siapa yang dipentingkan sedemikian rupa oleh manusia, sehingga ia
membiarkan dirinya di kuasai (didominir) oleh yang di pentingkannya itu. Yang
di pentingkan oleh manusia itu bermacam-macam, tetapi secara garis besar dapat
dikatakan bahwa yang dipentingkan dan di inginkan manusia itu ialah harta,
tahta, wanita(seksualitas), kemerdekaan ,ilmu pengetahuan, naa yang populer,
pujian dan sejenisnya.
Setiap manusia
memang harus mementingkan apa yang telah di sebutkan diatas, tetapi itu semua
di tentukan oleh niat (kata hati) dan perbuatan manusia itu. Kalau seseorang
mementingkannya sedemikian rupa sehingga ia membiarkan dirinya di kuasai oleh
keinginan(hawanafsu) terhadap yang di pentingkannya (sesuatu, seseorang)itu,
maka hawanafsunya adalah tuhannya. (Qs. Al-Furqon,25:43).
a.
Pengertian Syirik
Syirik adalah
itikad ataupun perbuatan yang menyamakan sesuatu selain Allah dan disandarkan
pada Allah dalam hal rububiyyah dan uluhiyyah. Umumnya, menyekutukan dalam
Uluhiyyah Allah yaitu hal-hal yang merupakan kekhususan bagi Allah, seperti
berdo'a kepada selain Allah, atau memalingkan suatu bentuk ibadah seperti
menyembelih (kurban), bernadzar, berdo'a dan sebagainya kepada selainNya.[1] Apa
sebenarnya pengertian syirik itu? Syirik adalah menganggap atau mengangkat atau
menjadikan adanya tuhan yang maha kuasa, selain Allah dalam perilakunya.
Dalam hal ini
allah menegaskan dengan gaya bertanya. “ Tahukan kamu siapa orang yang berbuat
syirik itu?itu adalah orang yang menjadikan tuhanya adalah hawa nafsunya, yaitu
hawa afsu terhada Ta (harta, tahta,dan wanita) dan akibatnya adalah arogansi,
egoisme, takabur, irihati, dengki, dzalim, mutraf, kafir, munafik, fasik (orang
yang sadar berbuat jahat, tahu baik dan buruk serta benar dan salah tetapi
dikerjakan yang buruk dan salah dan sebagainya dari sifat yang tercela.[2] Hal :47
Perbuatan
syirik atau tidak mengesakan Allah Yang Maha Esa ini sebenarnya telah terjadi
sejak dahulu sejak zaman adam dan hawa. Oleh karena itu, Allah telah terus
menerus dan berulang-ulang memberi peringatan melalui Rosul-Rosul NYA, supaya
manusia jangan mengabdi kecuali pada Allah dan jangan membiarkan diri di uasai
oleh hawa nafsu (desakan keinginan).[3]
Mengapa
perbuatan syirik yang menjadi sumber dari segala sumber kejahatan dan kerusakan
di muka bumi ini, bukan setan atau
iblis dan bukan pula hawa nafsu? Setan atau iblis bukan sumber dari segala
sumber kejahatan dan kerusakan di muka bumi ini karena syetan hanyalah aktor
(pemain atau pelaku utama) dalm menggoda dan menyesatkan manusia.[4] Dalam kaitan
ini Allah berfirman : Qs. Al-Baqarah. 34
Hawa nafsu
juga bukan sumber dari segala sumber kejahatan. Mengapa? Karena hawa nafsu itu
diperlukan oleh manusia. Manusia memerlukan hawa nafsu (keinginan) untuk makan,
untuk tidur dan hawa nafsu seksual umpamanya. Kalau manusia tidak memiliki
semua keinginan (hawa nafsu) tersebut diatas, tentu manusia itu berusaha atau
berobat supaya kembali normal/memilikinya.[5]
B. Macam Syirik
Secara umum,
syirik dimasukkan ke dalam dua kelompok, yaitu Syirik besar dan Syirik kecil
1. Syirik Besar
Syirik besar
bisa mengeluarkan pelakunya dari agama Islam dan menjadikannya kekal di dalam
Neraka, jika ia meninggal dunia dan belum bertaubat kepada Allah.
Syirik besar
adalah memalingkan sesuatu bentuk ibadah kepada selain Allah, seperti berdo'a
kepada selain Allah atau mendekatkan diri kepadanya dengan penyembelihan kurban
atau nadzar untuk selain Allah, baik untuk kuburan, jin atau syaitan, atau
mengharap sesuatu selain Allah, yang tidak kuasa memberikan manfaat maupun
mudharat.
Bentuk-bentuk syirik besar:
·
Syirik Do'a,
yaitu di samping dia berdo'a kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala, ia juga berdo'a
kepada selainNya.
·
Syirik Niat,
Keinginan dan Tujuan, yaitu ia menunjukkan suatu ibadah untuk selain Allah
Subhanahu wa Ta'ala.
·
Syirik Mahabbah
(Kecintaan), yaitu menyamakan selain Allah dengan Allah dalam hal kecintaan.
2. Syirik Kecil
Syirik kecil tidak menjadikan pelakunya keluar
dari agama Islam, tetapi ia mengurangi tauhid dan merupakan wasilah (perantara)
kepada syirik besar.
Bentuk-bentuk syirik kecil:
·
Syirik Zhahir (Nyata), yaitu syirik kecil yang dalam bentuk ucapan dan
perbuatan. Dalam bentuk ucapan misalnya, bersumpah dengan nama selain Allah.[6]
"Barangsiapa
bersumpah dengan nama selain Allah, maka ia telah berbuat kufur atau
syirik."
—HR. At-Tirmidzi (No.1535),
Al-Hakim (I/18, IV/297), Ahmad (II/34, 69, 86) dari Abdullah bin Umar r.a
Dalam sebuah
riwayat hadits:Ada seorang Yahudi yang datang kepada Nabi , dan berkata:
"Sesungguhnya kamu sekalian melakukan perbuatan syirik. Kamu mengucapkan: Atas kehendak Allah dan kehendakmu dan
mengucapkan: Demi Ka'bah. Maka Nabi
memerintahkan para sahabat apabila hendak bersumpah supaya mengucapkan, Demi Allah Pemilik Ka'bah dan
mengucapkan: Atas kehendak Allah kemudian
atas kehendakmu
—HR. An-Nasa'i (VII/6) dan Amalul
Yaum wal Lailah (No. 992), Al-Hafizh Ibnu Hajar r.a berkata dalam Al-Ishaabah (IV/389), "Hadits ini shahih, dari Qutailah
r.a, wanita dari Juhainah r.a
Syirik dalam
bentuk ucapan, yaitu perkataan."Kalau
bukan karena kehendak Allah dan kehendak fulan". Ucapan tersebut
salah, dan yang benar adalah."Kalau
bukan karena kehendak Allah, kemudian karena kehendak si fulan". Kata kemudian menunjukkan tertib berurutan,
yang berarti menjadikan kehendak hamba mengikuti kehendak Allah.Syirik
Khafi (Tersembunyi), yaitu syirik dalam hal keinginan dan niat, seperti riya' (ingin dipuji orang) dan sum'ah (ingin didengar orang) dan lainnya.
"Sesungguhnya
yang paling aku takutkan atas kalian adalah syirik kecil. "Mereka (para
sahabat) bertanya: "Apakah syirik kecil itu, ya Rasulullah?"
.Dia menjawab: "Yaitu riya'"
A. Tauhid
(Arab :توحيد), adalah konsep dalam aqidah Islam yang menyatakan
keesaan Allah. Dalam pengamalannya
ketauhidan dibagi menjadi 3 macam yakni tauhid rububiyah, uluhiyah dan Asma wa Sifat. Mengamalkan tauhid dan menjauhi syirik merupakan konsekuensi
dari kalimat syahadat yang telah diikrarkan oleh seorang muslim.
apakah sumber
dari segala sumber kebaikan atau akhlak mulia itu? Atau apa strategi untuk
memulai kebangkitan, to build the world a
new. Sumber dari segala sumber kebaikan adalah tauhid dan strategi untuk
membangun satu dunia baru harus berdasar pada tauhid dan dalam operasional (
cara kerjanya ) adalah dengan benar-benar bersyahadat. Mengapa? Sebab tauhid
berarti mengesakan yaitu menjadikan Allah satu-satunya Tuhan. Satusatunya yang
dipentingkan sedemikian rupa, sehingga manusia itu membiarkan dirinya hanya
dikuasai oleh Allah (Sunatullah). Baik sunatullah yang tertulis (Firman Allah)
atau Al- Quran maupun sunnatullah yang tidak tertulis (hukum alam ciptaan
Allah). Sunnatullah yang tertulis adalah ayat atau catatan tentang Allah
sendiri dan alam semesta, baik yang gaib (seperti malaikat, jin, setan dan
iblis, white magic dan black magic) maupun alam nyata seperti hukum-hukum dasar
biologi, ekonomi, politik, tauhid, iman, ibadah dan akhlak. Sedang sunnatullah
yang tidak tertulis adalah kenyataan yang ada di alam semesta ini seperti hukum
Alllah dalam bidang biologi, fisika, kimia, elektro, kedokteran, astronomi, dan
sebagainya.
Manusia yang
telah menauhidkan Allah berati dia telah bersyahadat. Bersyahadat adalah asas
dan syarat yang paling pokok untuk menjadi orang islam.Hal 57 Syahadat merupakan asas dan dasar bagi rukun
Islam lainnya. Syahadat merupakan ruh, inti dan landasan seluruh ajaran Islam.[8]Tauhid atau
bersyahadat benar-benar menjadi sumber dari segala sumber kebaikan (akhlak
mulia). Hal 57 Seorang muslim
meyakini bahwa tauhid adalah dasar Islam yang paling agung dan hakikat Islam
yang paling besar, dan merupakan salah satu syarat diterimanya amal perbuatan
disamping harus sesuai dengan tuntunan rasulullah.
Dalil Al-Qur'an tentang keutamaan dan keagungan
tauhid
Berikut
ini adalah dalil dari Qur'an mengenai keutamaan dan keagungan tauhid, di
antaranya adalah:
|
“
|
...dan sesungguhnya Kami telah
mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): Sembahlah Allah
(saja), dan jauhilah Thaghut itu. (An-Nahl
16:36)
|
”
|
|
“
|
Padahal mereka hanya disuruh menyembah
Tuhan Yang Maha Esa; tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Maha
Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan. (At-Taubah 9:31)
|
”
|
|
“
|
Maka sembahlah Allah dengan memurnikan
ketaatan kepada-Nya. Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih
(dari syirik). (Az-Zumar
39:2-3)
|
”
|
|
“
|
Padahal mereka tidak disuruh kecuali
supaya menyembah Allah dengan memurnikan keta`atan kepada-Nya dalam
(menjalankan) agama dengan lurus. (Al-Bayyinah
98:5)
|
”
|
Karena kenyataannya demikian dan pengaruhnya-pengaruhnya yang
terpuji ini, maka setan adalah makhluk yang paling cepat (dalam usahanya) untuk
menghancurkan dan merusaknya. Senantiasa bekerja untuk melemahkan dan
membahayakan tauhid itu. Setan lakukan hal ini siang malam dengan berbagai cara
yang diharapkan membuahkan hasil.
Jika setan tidak
berhasil (menjerumuskan ke dalam) syirik akbar, setan tidak akan putus asa
untuk menjerumuskan ke dalam syirik dalam berbagai kehendak dan lafadz (yang
diucapkan manusia). Jika masih juga tidak berhasil maka ia akan menjerumuskan
ke dalam berbagai sumber maksiat.
a. Rububiyah
Beriman bahwa hanya Allah satu-satunya Rabb yang
memiliki, merencanakan, menciptakan, mengatur, memelihara, memberi rezeki,
memberikan manfaat, menolak mudharat serta menjaga seluruh Alam Semesta.
Sebagaimana terdapat dalam Al Quran yang
berbunyi:
|
“
|
Allah menciptakan segala sesuatu dan
Dia memelihara segala sesuatu. (Az-Zumar
39:62)
|
”
|
Hal yang seperti ini
diakui oleh seluruh manusia, tidak ada seorang pun yang mengingkarinya.
Orang-orang yang mengingkari hal ini, seperti kaum atheis, pada kenyataannya
mereka menampakkan keingkarannya hanya karena kesombongan mereka. Padahal, jauh
di dalam lubuk hati mereka, mereka mengakui bahwa tidaklah alam semesta ini
terjadi kecuali ada yang membuat dan mengaturnya. Mereka hanyalah membohongi
kata hati mereka sendiri. Hal ini sebagaimana firman Allah SWT :
|
“
|
Apakah mereka diciptakan tanpa sesuatu pun ataukah
mereka yang menciptakan? Ataukah mereka telah menciptakan langit dan bumi
itu? sebenarnya mereka tidak meyakini (apa yang mereka katakan). (Ath-Thur: 35-36)
|
”
|
Namun pengakuan
seseorang terhadap Tauhid Rububiyah ini tidaklah menjadikan seseorang beragama
Islam karena sesungguhnya orang-orang musyrikin Quraisy yang diperangi
rasulullah mengakui dan meyakini jenis tauhid ini. Sebagaimana firman Allah,
|
“
|
Katakanlah: ‘Siapakah Yang memiliki langit yang
tujuh dan Yang memiliki Arsy yang
besar?’ Mereka akan menjawab: ‘Kepunyaan Allah.’ Katakanlah: ‘Maka apakah
kamu tidak bertakwa?’ Katakanlah: ‘Siapakah yang di tangan-Nya berada
kekuasaan atas segala sesuatu sedang Dia melindungi, tetapi tidak ada yang
dapat dilindungi dari -Nya, jika kamu mengetahui?’ Mereka akan menjawab:
‘Kepunyaan Allah.’ Katakanlah: ‘Maka dari jalan manakah kamu ditipu?' (Al-Mu’minun: 86-89)
|
”
|
b.
Uluhiyah/Ibadah
Beriman bahwa hanya
Allah semata yang berhak disembah, tidak ada sekutu bagiNya. "Allah menyatakan bahwa tidak ada Tuhan
(yang berhak disembah) selain Dia yang menegakkan keadilan. Para malaikat dan
orang orang yang berilmu (juga menyatakan demikian).
|
“
|
Tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia
yang Mahaperkasa lagi Maha Bijaksana. ('Al
'Imran 3:18)
|
”
|
Beriman terhadap uluhiyah
Allah merupakan konsekuensi dari keimanan terhadap rububiyahNya. Mengesakan
Allah dalam segala macam ibadah yang kita lakukan. Seperti salat, doa, nadzar,
menyembelih, tawakkal, taubat, harap, cinta, takut dan berbagai macam ibadah
lainnya. Di mana kita harus memaksudkan tujuan dari kesemua ibadah itu hanya
kepada Allah semata. Tauhid inilah yang merupakan inti dakwah para rasul dan
merupakan tauhid yang diingkari oleh kaum musyrikin Quraisy. Hal ini
sebagaimana yang difirmankan Allah mengenai perkataan mereka itu
|
“
|
Mengapa ia menjadikan sesembahan-sesembahan itu
Sesembahan Yang Satu saja? Sesungguhnya ini benar-benar suatu hal yang sangat
mengherankan.(Shaad 38:5)
|
”
|
Dalam ayat ini kaum
musyrikin Quraisy mengingkari jika tujuan dari berbagai macam ibadah hanya
ditujukan untuk Allah semata. Oleh karena pengingkaran inilah maka mereka
dikafirkan oleh Allah dan rasul-Nya walaupun mereka mengakui bahwa Allah adalah
satu-satunya Pencipta alam semesta.
c.
Asma wa sifat
Beriman bahwa Allah
memiliki nama dan sifat baik (asma'ul
husna) yang sesuai dengan keagunganNya. Umat Islam mengenal 99
asma'ul husna yang merupakan nama sekaligus sifat Allah.[9]
[2]
Nainggolan, Z.S. DR. Inilah Islam , Hikmah
Falsafah dan Ke Esaan Allah, Kalam Mulia, Jakarta, Jilid I, 1985. h.47
[3] Nainggolan, Z.S. DR. Inilah Islam , Hikmah
Falsafah dan Ke Esaan Allah, Kalam Mulia, Jakarta, Jilid I, 1985. h.53
[4] Ibid., h.53
[5] Ibid., h.53
[8] Agustian,
Ari Ginanjar, Rahasia Sukses Membangun Kecerdasan Emosi & Spiritual, ESQ,
Jakarta: Arga Tilanta, h.xxxiii
Tidak ada komentar:
Posting Komentar