Selasa, 11 Oktober 2016

BAB II
PEMBAHASAN
1.      Sumber Dari Segala Sumber Kejahatan
Ditinjau dari sudut Perbandingan Agama Tuhan ialah sesuatu, apa atau siapa yang dipentingkan sedemikian rupa oleh manusia, sehingga ia membiarkan dirinya di kuasai (didominir) oleh yang di pentingkannya itu. Yang di pentingkan oleh manusia itu bermacam-macam, tetapi secara garis besar dapat dikatakan bahwa yang dipentingkan dan di inginkan manusia itu ialah harta, tahta, wanita(seksualitas), kemerdekaan ,ilmu pengetahuan, naa yang populer, pujian dan sejenisnya.
Setiap manusia memang harus mementingkan apa yang telah di sebutkan diatas, tetapi itu semua di tentukan oleh niat (kata hati) dan perbuatan manusia itu. Kalau seseorang mementingkannya sedemikian rupa sehingga ia membiarkan dirinya di kuasai oleh keinginan(hawanafsu) terhadap yang di pentingkannya (sesuatu, seseorang)itu, maka hawanafsunya adalah tuhannya. (Qs. Al-Furqon,25:43).









a.      Pengertian Syirik
Syirik adalah itikad ataupun perbuatan yang menyamakan sesuatu selain Allah dan disandarkan pada Allah dalam hal rububiyyah dan uluhiyyah. Umumnya, menyekutukan dalam Uluhiyyah Allah yaitu hal-hal yang merupakan kekhususan bagi Allah, seperti berdo'a kepada selain Allah, atau memalingkan suatu bentuk ibadah seperti menyembelih (kurban), bernadzar, berdo'a dan sebagainya kepada selainNya.[1] Apa sebenarnya pengertian syirik itu? Syirik adalah menganggap atau mengangkat atau menjadikan adanya tuhan yang maha kuasa, selain Allah dalam perilakunya.
Dalam hal ini allah menegaskan dengan gaya bertanya. “ Tahukan kamu siapa orang yang berbuat syirik itu?itu adalah orang yang menjadikan tuhanya adalah hawa nafsunya, yaitu hawa afsu terhada Ta (harta, tahta,dan wanita) dan akibatnya adalah arogansi, egoisme, takabur, irihati, dengki, dzalim, mutraf, kafir, munafik, fasik (orang yang sadar berbuat jahat, tahu baik dan buruk serta benar dan salah tetapi dikerjakan yang buruk dan salah dan sebagainya dari sifat yang tercela.[2] Hal :47
Perbuatan syirik atau tidak mengesakan Allah Yang Maha Esa ini sebenarnya telah terjadi sejak dahulu sejak zaman adam dan hawa. Oleh karena itu, Allah telah terus menerus dan berulang-ulang memberi peringatan melalui Rosul-Rosul NYA, supaya manusia jangan mengabdi kecuali pada Allah dan jangan membiarkan diri di uasai oleh hawa nafsu (desakan  keinginan).[3]
Mengapa perbuatan syirik yang menjadi sumber dari segala sumber kejahatan dan kerusakan di muka bumi ini,   bukan setan atau iblis dan bukan pula hawa nafsu? Setan atau iblis bukan sumber dari segala sumber kejahatan dan kerusakan di muka bumi ini karena syetan hanyalah aktor (pemain atau pelaku utama) dalm menggoda dan menyesatkan manusia.[4] Dalam kaitan ini Allah berfirman :  Qs. Al-Baqarah. 34


Hawa nafsu juga bukan sumber dari segala sumber kejahatan. Mengapa? Karena hawa nafsu itu diperlukan oleh manusia. Manusia memerlukan hawa nafsu (keinginan) untuk makan, untuk tidur dan hawa nafsu seksual umpamanya. Kalau manusia tidak memiliki semua keinginan (hawa nafsu) tersebut diatas, tentu manusia itu berusaha atau berobat supaya kembali normal/memilikinya.[5]





B. Macam Syirik                      

Secara umum, syirik dimasukkan ke dalam dua kelompok, yaitu Syirik besar dan Syirik kecil
1. Syirik Besar
Syirik besar bisa mengeluarkan pelakunya dari agama Islam dan menjadikannya kekal di dalam Neraka, jika ia meninggal dunia dan belum bertaubat kepada Allah.
Syirik besar adalah memalingkan sesuatu bentuk ibadah kepada selain Allah, seperti berdo'a kepada selain Allah atau mendekatkan diri kepadanya dengan penyembelihan kurban atau nadzar untuk selain Allah, baik untuk kuburan, jin atau syaitan, atau mengharap sesuatu selain Allah, yang tidak kuasa memberikan manfaat maupun mudharat.
Bentuk-bentuk syirik besar:
·      Syirik Do'a, yaitu di samping dia berdo'a kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala, ia juga berdo'a kepada selainNya.
·      Syirik Niat, Keinginan dan Tujuan, yaitu ia menunjukkan suatu ibadah untuk selain Allah Subhanahu wa Ta'ala.
·      Syirik Mahabbah (Kecintaan), yaitu menyamakan selain Allah dengan Allah dalam hal kecintaan.
2. Syirik Kecil
 Syirik kecil tidak menjadikan pelakunya keluar dari agama Islam, tetapi ia mengurangi tauhid dan merupakan wasilah (perantara) kepada syirik besar.
Bentuk-bentuk syirik kecil:
·      Syirik Zhahir (Nyata), yaitu syirik kecil yang dalam bentuk ucapan dan perbuatan. Dalam bentuk ucapan misalnya, bersumpah dengan nama selain Allah.[6]
 Rasulullah  bersabda:
"Barangsiapa bersumpah dengan nama selain Allah, maka ia telah berbuat kufur atau syirik."
—HR. At-Tirmidzi (No.1535), Al-Hakim (I/18, IV/297), Ahmad (II/34, 69, 86) dari Abdullah bin Umar r.a
Dalam sebuah riwayat hadits:Ada seorang Yahudi yang datang kepada Nabi , dan berkata: "Sesungguhnya kamu sekalian melakukan perbuatan syirik. Kamu mengucapkan: Atas kehendak Allah dan kehendakmu dan mengucapkan: Demi Ka'bah. Maka Nabi  memerintahkan para sahabat apabila hendak bersumpah supaya mengucapkan, Demi Allah Pemilik Ka'bah dan mengucapkan: Atas kehendak Allah kemudian atas kehendakmu
—HR. An-Nasa'i (VII/6) dan Amalul Yaum wal Lailah (No. 992), Al-Hafizh Ibnu Hajar r.a berkata dalam Al-Ishaabah (IV/389), "Hadits ini shahih, dari Qutailah r.a, wanita dari Juhainah r.a
Syirik dalam bentuk ucapan, yaitu perkataan."Kalau bukan karena kehendak Allah dan kehendak fulan". Ucapan tersebut salah, dan yang benar adalah."Kalau bukan karena kehendak Allah, kemudian karena kehendak si fulan". Kata kemudian menunjukkan tertib berurutan, yang berarti menjadikan kehendak hamba mengikuti kehendak Allah.Syirik Khafi (Tersembunyi), yaitu syirik dalam hal keinginan dan niat, seperti riya' (ingin dipuji orang) dan sum'ah (ingin didengar orang) dan lainnya.
"Sesungguhnya yang paling aku takutkan atas kalian adalah syirik kecil. "Mereka (para sahabat) bertanya: "Apakah syirik kecil itu, ya Rasulullah?" .Dia  menjawab: "Yaitu riya'"
—HR. Ahmad (V/428-429) dari sahabat Mahmud bin Labid r.a[7]
2.      Sumber Dari Segala Sumber Kebaikan Atau Akhlak Mulia
A.  Tauhid 
(Arab :توحيد), adalah konsep dalam aqidah Islam yang menyatakan keesaan Allah. Dalam pengamalannya ketauhidan dibagi menjadi 3 macam yakni tauhid rububiyahuluhiyah dan Asma wa Sifat. Mengamalkan tauhid dan menjauhi syirik merupakan konsekuensi dari kalimat syahadat yang telah diikrarkan oleh seorang muslim.
apakah sumber dari segala sumber kebaikan atau akhlak mulia itu? Atau apa strategi untuk memulai kebangkitan, to build the world a new. Sumber dari segala sumber kebaikan adalah tauhid dan strategi untuk membangun satu dunia baru harus berdasar pada tauhid dan dalam operasional ( cara kerjanya ) adalah dengan benar-benar bersyahadat. Mengapa? Sebab tauhid berarti mengesakan yaitu menjadikan Allah satu-satunya Tuhan. Satusatunya yang dipentingkan sedemikian rupa, sehingga manusia itu membiarkan dirinya hanya dikuasai oleh Allah (Sunatullah). Baik sunatullah yang tertulis (Firman Allah) atau Al- Quran maupun sunnatullah yang tidak tertulis (hukum alam ciptaan Allah). Sunnatullah yang tertulis adalah ayat atau catatan tentang Allah sendiri dan alam semesta, baik yang gaib (seperti malaikat, jin, setan dan iblis, white magic dan black magic) maupun alam nyata seperti hukum-hukum dasar biologi, ekonomi, politik, tauhid, iman, ibadah dan akhlak. Sedang sunnatullah yang tidak tertulis adalah kenyataan yang ada di alam semesta ini seperti hukum Alllah dalam bidang biologi, fisika, kimia, elektro, kedokteran, astronomi, dan sebagainya.
Manusia yang telah menauhidkan Allah berati dia telah bersyahadat. Bersyahadat adalah asas dan syarat yang paling pokok untuk menjadi orang islam.Hal 57  Syahadat merupakan asas dan dasar bagi rukun Islam lainnya. Syahadat merupakan ruh, inti dan landasan seluruh ajaran Islam.[8]Tauhid atau bersyahadat benar-benar menjadi sumber dari segala sumber kebaikan (akhlak mulia). Hal 57 Seorang muslim meyakini bahwa tauhid adalah dasar Islam yang paling agung dan hakikat Islam yang paling besar, dan merupakan salah satu syarat diterimanya amal perbuatan disamping harus sesuai dengan tuntunan rasulullah.

Dalil Al-Qur'an tentang keutamaan dan keagungan tauhid

Berikut ini adalah dalil dari Qur'an mengenai keutamaan dan keagungan tauhid, di antaranya adalah:

...dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu. (An-Nahl 16:36)
Padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan Yang Maha Esa; tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan. (At-Taubah 9:31)
Maka sembahlah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya. Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik). (Az-Zumar 39:2-3)
Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan keta`atan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus. (Al-Bayyinah 98:5)
Karena kenyataannya demikian dan pengaruhnya-pengaruhnya yang terpuji ini, maka setan adalah makhluk yang paling cepat (dalam usahanya) untuk menghancurkan dan merusaknya. Senantiasa bekerja untuk melemahkan dan membahayakan tauhid itu. Setan lakukan hal ini siang malam dengan berbagai cara yang diharapkan membuahkan hasil.
Jika setan tidak berhasil (menjerumuskan ke dalam) syirik akbar, setan tidak akan putus asa untuk menjerumuskan ke dalam syirik dalam berbagai kehendak dan lafadz (yang diucapkan manusia). Jika masih juga tidak berhasil maka ia akan menjerumuskan ke dalam berbagai sumber maksiat.

B. Pembagian tauhid

a. Rububiyah

Beriman bahwa hanya Allah satu-satunya Rabb yang memiliki, merencanakan, menciptakan, mengatur, memelihara, memberi rezeki, memberikan manfaat, menolak mudharat serta menjaga seluruh Alam Semesta. Sebagaimana terdapat dalam Al Quran yang berbunyi:

Allah menciptakan segala sesuatu dan Dia memelihara segala sesuatu. (Az-Zumar 39:62)
Hal yang seperti ini diakui oleh seluruh manusia, tidak ada seorang pun yang mengingkarinya. Orang-orang yang mengingkari hal ini, seperti kaum atheis, pada kenyataannya mereka menampakkan keingkarannya hanya karena kesombongan mereka. Padahal, jauh di dalam lubuk hati mereka, mereka mengakui bahwa tidaklah alam semesta ini terjadi kecuali ada yang membuat dan mengaturnya. Mereka hanyalah membohongi kata hati mereka sendiri. Hal ini sebagaimana firman Allah SWT :
Apakah mereka diciptakan tanpa sesuatu pun ataukah mereka yang menciptakan? Ataukah mereka telah menciptakan langit dan bumi itu? sebenarnya mereka tidak meyakini (apa yang mereka katakan). (Ath-Thur: 35-36)
Namun pengakuan seseorang terhadap Tauhid Rububiyah ini tidaklah menjadikan seseorang beragama Islam karena sesungguhnya orang-orang musyrikin Quraisy yang diperangi rasulullah mengakui dan meyakini jenis tauhid ini. Sebagaimana firman Allah,
Katakanlah: ‘Siapakah Yang memiliki langit yang tujuh dan Yang memiliki Arsy yang besar?’ Mereka akan menjawab: ‘Kepunyaan Allah.’ Katakanlah: ‘Maka apakah kamu tidak bertakwa?’ Katakanlah: ‘Siapakah yang di tangan-Nya berada kekuasaan atas segala sesuatu sedang Dia melindungi, tetapi tidak ada yang dapat dilindungi dari -Nya, jika kamu mengetahui?’ Mereka akan menjawab: ‘Kepunyaan Allah.’ Katakanlah: ‘Maka dari jalan manakah kamu ditipu?' (Al-Mu’minun: 86-89)

b.   Uluhiyah/Ibadah

Beriman bahwa hanya Allah semata yang berhak disembah, tidak ada sekutu bagiNya. "Allah menyatakan bahwa tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia yang menegakkan keadilan. Para malaikat dan orang orang yang berilmu (juga menyatakan demikian).
Tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia yang Mahaperkasa lagi Maha Bijaksana. ('Al 'Imran 3:18)
Beriman terhadap uluhiyah Allah merupakan konsekuensi dari keimanan terhadap rububiyahNya. Mengesakan Allah dalam segala macam ibadah yang kita lakukan. Seperti salat, doa, nadzar, menyembelih, tawakkal, taubat, harap, cinta, takut dan berbagai macam ibadah lainnya. Di mana kita harus memaksudkan tujuan dari kesemua ibadah itu hanya kepada Allah semata. Tauhid inilah yang merupakan inti dakwah para rasul dan merupakan tauhid yang diingkari oleh kaum musyrikin Quraisy. Hal ini sebagaimana yang difirmankan Allah mengenai perkataan mereka itu
Mengapa ia menjadikan sesembahan-sesembahan itu Sesembahan Yang Satu saja? Sesungguhnya ini benar-benar suatu hal yang sangat mengherankan.(Shaad 38:5)
Dalam ayat ini kaum musyrikin Quraisy mengingkari jika tujuan dari berbagai macam ibadah hanya ditujukan untuk Allah semata. Oleh karena pengingkaran inilah maka mereka dikafirkan oleh Allah dan rasul-Nya walaupun mereka mengakui bahwa Allah adalah satu-satunya Pencipta alam semesta.

c.    Asma wa sifat

Beriman bahwa Allah memiliki nama dan sifat baik (asma'ul husna) yang sesuai dengan keagunganNya. Umat Islam mengenal 99 asma'ul husna yang merupakan nama sekaligus sifat Allah.[9]



[2] Nainggolan, Z.S. DR. Inilah Islam , Hikmah Falsafah dan Ke Esaan Allah, Kalam Mulia, Jakarta, Jilid I, 1985. h.47
[3] Nainggolan, Z.S. DR. Inilah Islam , Hikmah Falsafah dan Ke Esaan Allah, Kalam Mulia, Jakarta, Jilid I, 1985. h.53
[4] Ibid., h.53
[5] Ibid., h.53
[8] Agustian, Ari Ginanjar, Rahasia Sukses Membangun Kecerdasan Emosi & Spiritual, ESQ, Jakarta: Arga Tilanta, h.xxxiii
[9] https://id.wikipedia.org/wiki/Tauhid diakses 11/10/2016 15:51

Tidak ada komentar:

Posting Komentar